Cari barang murah untuk dijual bagi para pedagang adalah sebuah tantangan awal yang harus di lewati. Karena jika mereka bisa mendapat sumber barang yang murah, maka diyakini akan laris manis di pasaran.
Banyak sumber barang murah yang bisa kita temui saat ini seperti di marketplace – marketplace dari luar negeri seperti alibaba, aliexpress, amazon dan masih banyak lagi lainnya.

Kebanyakan reseller selalu fokus mencari supplier barang import murah saja tanpa mengetahui asal barang murah tersebut dari mana.
Sebagai contoh pernah gak kalian memperhatikan ada reseller yang bisa menjual barag – barang bermerek lebih murah dari harga pasaran seperti H&M, Uniqlo, P&B, GAP, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Kenapa para reseller tersebut bisa jual lebih murah dari harga pasaran?
Darimana mereka mendapatkan sumber barang murah tersebut?
Ada beberapa poin yang sangat penting yang menjadi dasar kalian cari barang murah untuk dijual tersebut
1. Volume Purchasing (beli banyak)
Kebayakan para reseller tersebut dalam membeli produk selalu dengan jumlah yang sangat banyak kepada ke distributornya. Dengan hal itu tentu saja mereka bisa membeli dengan harga spesial yaitu harga grosir atau mendapat diskon khusus dari distributornya.
Dengan demikian, mereka bisa menjual barang tersebut dengan harga yang lebih murah dari harga eceran pasaran walaupun margin keuntungannya pasti jadi lebih kecil. Dalam hal ini, hubungan relasi antara reseller ke supplier sangat penting dan harus dijaga supaya supplier tetap mau menjualkan barang nya dengan harga wholesales (borongan) .
Selain itu, reseller juga harus pandai memperkirakan berapa banyak jumlah stok yang harus mereka miliki supaya tidak banyak barang tertimbun gara-gara tidak laku.
2. Loss Leader Pricing (Jual rugi)
Tidak semua produk yang dijual oeh reseller bisa menghasilkan keuntungan. Kadang untuk beberapa produk tertentu yang mereka sediakan memang untuk dijual dengan harga yang sama dengan harga modal barang tersebut atau bahkan jauh lebih murah.
Itulah kenapa makanya mereka bisa menjual lebih murah dari pasaran. Konsekuensinya tentu tidak mendapat untung, tapi tidak masalah karena tujuan strategi ini adalah membuat konsumen tertarik untuk melirik reseller tersebut, yang secara tidak langsung nantinya membuat konsumen juga akan melihat-lihat produk lain yang masih mempunyai margin keuntungan.
Kalau produk yang masih punya margin itu nantinya dibeli sama konsumen, itu akan menutupi produk yang dijual rugi sebelumya.
3. Barang kolongan pabrik
Biasa disebut dengan barang reject barang yang tidak lolos proses Quality Control. Entah apapun alasannya dan biasanya tag disilang ,dirobek ataupun dipotong untuk membedakan project reject dan yang tidak.
Biasanya juga produk ini dijual dengan jalur tidak resmi. Ada beberapa pabrik yang barang reject nya langsung dibuang saja, tapi ada juga yang bisa dikeluarkan oleh orang dalam.
Kami pernah bertemu kasus suatu pabrik garmen yang mempolisikan salah satu online shop di instagram karena ketahuan menjual barang reject dari pabriknya. Jadi berhati – hatilah untuk berjualan barang kolongan, pabrik sudah mulai waspada.
4. Barang diskonan store
Bisa juga para seller borong barang diskon dari storenya, karena lumayan kalau lagi ada diskon sampai 70%, kita jual dengan harga 50% aja udah untung lumayan. Buyer juga puas dapet barang dengan harga yang lumayan murah dan terjamin karena barang dari store langsung.
Dahulu saat jaman sport station suka ada promo buy 1 get 1 setiap valentine atau 17 Agustus (sekitar tahun 2012 – 2015) wah itu satu toko bisa diborong sama reseller haha. Saya dari dulu suka jualan iseng-iseng barang diskonan store begini.
5. Barang “kompo”
Ada yang disebut dengan barang “kompo”, dimana barang tersebut dibuat dengan material yang diklaim asli dari pabriknya, tapi dirakit di home industry diluar pabrik. Ya believe it or not sih ini ori atau kw. Dari pengalaman jualan barang kompo, sekarang kualitasnya makin meningkat bahkan bener-bener gak ada bedanya dengan barang store.
6. Barang KW
Percaya atau tidak, barang-barang branded yang banjir di pasaran, ada indikasi kalau itu barang KW. Seperti tas gimmick dari suatu brand sepatu terkenal (yang katanya bonus dari majalah, tapi bonus kok bisa diperjualbelikan dengan sangat banyak? you do the math, haha), atau tas-tas yang gambar monyet loreng, udah rahasia umum lah kalo itu KW karena yang jual banyak banget padahal bukan barang General Release.


